|

Nelayan Langkat Menjerit, PNTI Sumut: Stop Proyek Reklamasi Gas di Pesisir Desa Bubun

Masyarakat nelayan tradisional di empat desa di Kecamatan Tanjungpura, Kab Langkat, Sumut, menjerit. Hasil tangkapan ikan mereka anjlok dampak proyek reklamasi pengeboran gas elpiji di pesisir Desa Bubun, Kecamatan Tanjungpura. Para nelayan meminta pengerjaan proyek itu dihentikan.(foto: hendra)

INILAHMEDAN - Langkat: Masyarakat nelayan tradisional di empat desa di Kecamatan Tanjungpura, Kab Langkat, Sumut, menjerit. Hasil tangkapan ikan mereka anjlok dampak proyek reklamasi pengeboran gas elpiji di pesisir Desa Bubun, Kecamatan Tanjungpura. Para nelayan meminta pengerjaan proyek itu dihentikan.

Masyarakat nelayan itu berasal dari Desa Bubun, Desa Tapak Kuda, Desa Secanggang dan Desa Jaring Halus.

"Kami minta proyek itu distop. Para nelayan di sini mengeluh karena hasil tangkapan ikan mereka anjlok drastis," kata Ketua DPW Perkumpulan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI) Sumatera Utara Adhan Nur Dato Setia Satiya Samudra Wangsa, Minggu (03/05/2026).

Lebih parahnya, kata Adhan, proyek reklamasi pengeboran gas elpiji itu juga mengganggu kawasan hutan mangrove karena ditimbuni material pasir. Sementara hutan mangrove juga berfungsi sebagai tempat berkembang biaknya habitat laut.

"Proyek reklamasi di Bubun jangan sampai merusak biota laut maupun pasir laut. Nasib para nelayan harus diperhatikan juga. Jangan sampai kontraktor mau cari untung nelayan sengsara. Kami juga meragukan proses perizinannya," tegas Adhan.

Selain diduga merusak habitat laut, kata Adhan, asal-usul material pasir untuk reklamasi juga tidak jelas dan diduga tidak memiliki izin. Ia meminta proyek PT EMP Limited Gebang yang dilaksanakan PT Aquanur dan PT Pilaren dihentikan hingga ada kejelasan surat izin terkait pengadaan pasir.

"Kami bukan tidak mendukung program pemerintah untuk pembangunan. Tapi aturan yang berlaku harus diikuti," katanya.

Akibat penimbunan material di kawasan mangrove, kata dia, para nelayan mengaku hasil tangkapan kepiting dan sejenisnya turun drastis.(imc/hendra)

Komentar

Berita Terkini