![]() |
| Unjuk rasa mahasiswa.(foto: ist) |
Oleh: Nazwa Vaziela Siregar Mahasiswi Universitas Medan Area
Beberapa waktu terakhir, suara mahasiswa kembali terdengar dari jalanan. Mereka membawa poster, menyampaikan tuntutan, dan mempertanyakan berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.
Sebagai seorang mahasiswa, saya melihat fenomena ini bukan sekadar aksi demonstrasi yang datang dan pergi. Bagi saya, aksi tersebut merupakan cerminan dari kegelisahan yang sedang dirasakan banyak anak muda terhadap kondisi yang mereka hadapi hari ini maupun masa depan yang akan mereka jalani.
Menurut saya, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah mengapa mahasiswa berdemo, melainkan mengapa mereka merasa perlu kembali turun ke jalan. Sebab demonstrasi tidak muncul begitu saja. Selalu ada keresahan yang melatarbelakanginya.
Saya melihat banyak anak muda saat ini tumbuh di tengah berbagai ketidakpastian. Di satu sisi, kita sering mendengar kabar mengenai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang terus berjalan. Namun di sisi lain, masyarakat juga dihadapkan pada meningkatnya biaya hidup, sulitnya mencari pekerjaan dan kekhawatiran mengenai masa depan.
Situasi ini membuat sebagian generasi muda mulai mempertanyakan apakah kemajuan yang sering dibicarakan benar-benar dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
Menurut saya, yang sedang diuji saat ini bukan hanya kondisi ekonomi, tetapi juga kepercayaan publik. Ketika apa yang dirasakan masyarakat berbeda dengan narasi yang mereka dengar, maka muncul jarak yang perlahan mengikis rasa percaya. Dalam kondisi seperti itulah kritik mulai bermunculan dari berbagai arah, termasuk dari kalangan mahasiswa.
Saya tidak melihat demonstrasi sebagai bentuk permusuhan terhadap pemerintah. Justru sebaliknya, saya melihatnya sebagai bentuk kepedulian. Mahasiswa turun ke jalan karena mereka masih peduli terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya. Mereka ingin memastikan lbahwa suara masyarakat tetap memiliki ruang untuk didengar.
Bagi saya, kritik seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Dalam negara demokrasi, kritik adalah bagian dari mekanisme yang membantu pemerintah memahami apa yang l sedang dirasakan masyarakat. Tanpa kritik, pemerintah berisiko kehilangan kedekatan dengan realitas yang dihadapi rakyatnya.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa mahasiswa yang turun ke jalan tidak sedang mencari keributan. Mereka sedang menyampaikan kegelisahan yang mungkin juga dirasakan banyak orang. Dan selama kegelisahan itu belum terjawab, suara-suara dari jalanan akan terus hadir sebagai pengingat bahwa pembangunan tidak hanya tentang angka, tetapi juga tentang harapan dan kepercayaan masyarakat terhadap masa depan. (imc/***)
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap maupun pandangan resmi institusi tempat penulis menempuh pendidikan.
