![]() |
| Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo.(foto: dok) |
INILAHMEDAN - Jakarta: Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Kornas Re-LUN) Teuku Yudhistira menilai lima tahun Darmawan Prasodjo alias Darmo memimpin PT PLN (Persero) ternyata masih jalan di tempat. Bahkan pemadaman listrik kian menjadi-jadi.
"Tentunya ini musibah. Tapi musibah yang tidak datang tiba-tiba. Ini efek dari kepemimpinan Darmawan yang jalan di tempat. Bukan waktu sebentar, lima tahun," kata Teuku Yudhistira di Jakarta, Jumat (12/06/2026).
Dalam catatan Kornas Re-LUN, beber Yudhistira, ada dua kelalaian besar Darmawan sebagai Dirut PT PLN (Persero).
"Pertama, pembangkit listrik yang sudah ada dibiarkan tidak terawat dengan baik, mesin-mesinnya rusak, dan sering gangguan mendadak karena kurangnya pemeliharaan serius. Kedua, tidak ada satu pun pembangkit listrik baru yang selesai dibangun dan disambungkan ke dalam sistem untuk menutupi kekurangan daya," kata Yudhistira.
Sebagaimana diketahui, kebutuhan listrik masyarakat terus bertambah seiring berkembangnya zaman, jumlah penduduk, dan pertumbuhan ekonomi. Namun hal itu tidak dibarengi dengan penambahan kapasitas pembangkit baru. Dampaknya terjadi krisis energi yang mengkhawatirkan.
"Fakta ini sulit dibantah. Kita tengah menghadapi krisis energi mengkhawatirkan," kata Yudhistira.
Masalah utamanya, kata Yudhistira, sangat jelas. Selama hampir 5 tahun terakhir (2021-2026), tidak ada pertumbuhan atau pengembangan pembangkit listrik yang berarti.
"Kondisi kelistrikan belakangan ini kian memburuk. Khususnya di wilayah Jawa dan Bali. Sistem kelistrikan mengalami kekurangan daya yang parah hingga 1.500 MW. Dampaknya pemadaman bergilir dan gangguan terjadi hampir setiap saat," katanya.
Menurut Yudhistira, selama lima tahun memimpin PLN, tidak ada satu pun keputusan besar, langkah strategis atau terobosan nyata yang signifikan yang diakukan Darmawan untuk mendorong pembangunan pembangkit listrik baru.
"Setiap tahun PLN menyusun dokumen eksekusi RUPTL dengan target kapasitas yang harus beroperasi dan tersambung ke sistem. Namun realisasinya gagal total," katanya.
Yudhistira membeberkan data laporan kinerja PLN soal RUPTL 2021 - 2030 target penambahan kapasitas (MW) realisasi terpasang dan beroperasi yang hanya 17 persen dari rencana.
Artinya, kata Yudhistira, dari total hampir 17.200 MW yang seharusnya sudah ada dan menyala untuk menyuplai kebutuhan listrik masyarakat Indonesia, tak sampai 3.000 MW yang benar terwujud. Lebih dari 14.000 MW pembangkit yang dijanjikan mangkrak, tertunda, atau tidak pernah dibangun sama sekali.
"Inilah sebabnya cadangan daya makin menipis. Saat ini kita kekurangan listrik parah," katanya.
"Seharusnya target EBT dalam RUPTL 2021–2025 sebesar 7.800 MW energi terbarukan harus beroperasi. Tapi realisasinya cuma 810 MW yang selesai dan tersambung ke jaringan. Dari ribuan megawatt yang dijanjikan, yang benar-benar berfungsi bisa dihitung jari. Akibatnya rakyat menanggung derita akibat pemadaman.(imc/bsk)
