INILAHMEDAN - Jakarta: Desakan copot Darmawan Prasodjo sebagai Dirut PLN terus digaungkan. Blackout atau pemadaman listrik secara total yang terjadi pada Jumat malam (22/5/2026) mulai pukul 18.44 WIB dinilai bahwa Darmawan tak layak memimpin PLN. Tidak hanya di Pulau Sumatera meliputi Aceh hingga Lampung, berdasarkan informasi, blackout juga melanda sebagian wilayah Jawa Timur hingga Sulawesi. Di Sumatera Utara, pemadaman listrik berlangsung selama dua hari penuh.
"Jadi Darmawan tak layak lagi menjabat sebagai Dirut PLN," tandas Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN) Teuku Yudhistira di Jakarta, Sabtu (23/05/2026).
Menurut Yudhistira, blackout sepertinya sepertinya sudah menjadi budaya yang dipertontonkan PT PLN (Persero) sejak 2024.
"Karena faktanya, untuk di Pulau Sumatera saja sepertinya sudah berulang kali terjadi. Catatan kami, sudah lebih dari 3 kali pemadaman listrik total terjadi," beber Yudhistira.
Selain Sumatera, lanjutnya, pada bulan lalu, DKI Jakarta sebagai jantung Nusantara, juga tercatat dua kali mengalami blackout.
"Belum lagi Pulau Bali, juga sudah pernah mengalami blackout. Tapi anehnya, pihak PLN tidak pernah jujur membuka secara transparan apa penyebab peristiwa ini terus berulang," kecamnya.
Dampak dari pemadaman listrik total ini, kata Yudhistira, jelas telah melumpuhkan aktivitas masyarakat.
"Kalau saya menilai, (blackout) ini bagian dari kejahatan kemanusiaan, sekaligus bentuk kegagalan manajemen PLN dalam menjalankan amanah rakyat," ujarnya.
"Karena itu, kata dia, Presiden harus segera memecat Dirut PLN Darmawan Prasodjo yang sudah menjabat hampir 6 tahun. Kami juga mendesak Polri dan Kejaksaan Agung turun tangan untuk menangkap Darmawan Prasodjo, karena kami menilai pemadaman listrik ini juga kejadian luar biasa yang harus diusut tuntas," imbuhnya.
Yudhistira mengatakan, narasi kondisi PLN yang tidak baik-baik saja yang bocor ke publik beberapa hari lalu, benar adanya.
"Saya meyakini bahwa kondisi PLN memang sedang kritis. Apalagi di dalam narasi juga disebut PLN merugi hingga Rp4,3 Triliun dan ada wacana akan ada pemadaman listrik bergilir karena kondisi keuangan yang memprihatinkan, ditambah lagi dengan lonjakan nilai tukar dolar atas rupiah dan utang yang terus menggunung," pungkasnya.
Kawasan yang terdampak paling parah atas pemadaman total yakni Sumatera Utara meliputi seluruh Medan, Deliserdang, Binjai, Tebingtinggi, Langkat, Karo, Simalungun, Pematangsiantar, Asahan, Labuhanbatu, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan/Tengah/Utara, Sibolga, Nias. Kemudian sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Batam, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Aceh.
Sebagai penyebab diketahui akibat gangguan besar di Jalur Transmisi 275kV Sungai Rumbai – Muara Bungo (Jambi), merembet ke seluruh jaringan Sumatera .
Di samping itu pula, pemadaman juga menjalar hingga ke Gresik, Jawa Timur dan toli-toli Utara di Provinsi Sulawesi Tengah.(imc/bsk)
