-->
    |

Terharu, AKBP Ikhwan Beri Bantuan Bagi Keluarga Pemulung

Kapolres AKBP Ikhwan singgahi sepasang suami-isteri dengan anaknya yang mencari nafkah dengan memulung. (foto : dok) 

INILAHMEDAN
- Batubara : Kapolres Batubara AKBP Ikhwan Lubis merasa haru sehingga terketuk dalam melihat perjuangan hidup dari sepasang suami-isteri bernama Ridwan Sinaga dan Mastri Dewi Haloho pada Sabtu (20/11/21). 

" Tadi saya melintas jalan besar Desa Empat Negeri hendak ke Tanjung Tiram. Di tengah perjalanan, saya melihat pasangan suami istri mendorong angkong dengan membawa 2 orang anak. Ketika saya tanya, mereka mengatakan sedang mencari barang bekas/mulung. Kemudian saya ajak menuju kediaman mereka untuk melihat lebih dekat kehidupan keluarga Ridwan,” ungkapnya.

Saat mendengar kisah perjuangan hidup mereka (suami-isteri pemulung itu), AKBP Ikhwan berjanji akan memberikan bantuan. Untuk tahap awal, dia memberikan sembako untuk kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya bantuan perlengkapan sekolah untuk putra pertama dari Ridwan Sinaga.

" Kita melihat kondisi kediamannya sangat memperihatinkan. Nanti, melalui Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) perlahan rumahnya akan kita renovasi. Dan tadi kita dengar anak pertamanya putus sekolah, kelas 5 SD. Tadi sudah kita bujuk untuk kembali sekolah, perlengkapan kita lengkapi, kita belikan sepeda, kita daftrakan lagi langsung ke sekolahnya,” sebutnya. 

AKBP Ikhwan juga berharap bantuan yang diberikan dapat bermanfaat bagi keluarga Ridwan Sinaga dan Mastri Dewi Haloho. 

" Kalau tidak ada beras untuk makan, silahkan ke Polres Batubara. Kita akan siapkan bantuan beras. Kalau untuk anak yang sedang sekolah memiliki kekurangan biaya (kebutuhan sekolah), silahkan hubungi kami. Anak ini sudah kami angkat menjadi anak asuh Polres Batubara,” tuturnya. 

Diketahui, kisah mengharu datang dari Desa Empat Negeri, Kecamatan Datuk Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara.

Dimana pasangan suami istri (Pasutri) Ridwan Sinaga (56) dan Mastri Dewi Haloho (39) harus menjadi pemulung/mencari barang bekas untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

AKBP Ikhwan saat menyapa anak pemulung yang turut serta dibawa kedua orang tuanya. (foto : dok)

Tak hanya itu, mereka terpaksa membawa/mengajak kedua anaknya di atas angkong untuk menjemput rezeki. Ridwan Sinaga bersama Mastri Dewi Haloho menceritakan, dirinya harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencari barang bekas/memulung dengan menggunakan angkong.

" Kami mulai mulung dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Kami cari barang bekas, mulai dari Tanah Itam Ulu, Pekan Selasa, Pulau Sejuk hingga seputaran Kecamatan Lima Puluh,” katanya.

Memiliki tiga anak, dirinya harus membawa serta kedua anaknya yang berusia 3,5 tahun dan 1 tahun 9 bulan di atas angkong untuk mencari barang bekas/memulung. Sedang seorang anak lainnya berusia 11 tahun dititipkan di rumah keluarga yang tidak jauh dari kediamannya.

Untuk penghasilan dari penjualan barang bekas, ia mengaku mendapat sekitar Rp 20.000 hingga Rp30.000 per hari. Pendapatan tersebut harus dibagi untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

" Mereka (anak) harus dibawa sebab di rumah tidak ada yang menjaga. Mereka diletak di atas angkong, bersebelahan dengan goni tempat barang 

bekas. Pendapatan sekitar Rp20.000 Rp30.000. Pendapatan itu dibagi-bagi untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau dibilang tidak cukup, ya alhamdulillah dicukupkan,” ucapnya. (imc/joy) 

Komentar

Berita Terkini