-->
    |

Mengeksplor Potensi Wisata Pantai Pasir Putih Bulbul Nauli


INILAHMEDAN - Balige: Deretan sampan berbahan piber berjejer rapi. Sepuluh meter dari bibir pantai, speed boat kuning dibiarkan kosong. Dua perempuan setengah baya berendam. Obrolan mereka sayup terdengar dibawa embusan angin sepoi pada sebuah 'kepingan surga' di Pantai Pasir Putih Lumban Bulbul Nauli Danau Toba, di Desa Bulbul, Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

"Di sini ramai kalau hari-hari libur atau perayaan hari-hari besar keagamaan," kata Tampubolon, 35 tahun, salah seorang petugas pengelola Desa wisata Bulbul Nauli kepada www.inilahmedan.com yang sengaja singgah di lokasi itu, Jumat (13/03/2020).

Lokasi desa wisata itu letaknya tak begitu jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Toba. Sekitar 10 menit jika mengendarai kendaraan bermotor. Menuju lokasi desa wisata, pengunjung disajikan dengan pemandangan hamparan sawah di kaki bukit yang berjejer.

Infrastruktur jalan menuju lokasi cukup bagus meski jalanan tidak begitu lebar. Tapi masih bisa memuat kendaraan roda empat manakala berselisih jalan.

Rumah-rumah penduduk juga tidak terlalu rapat namun memiliki halaman lebar dengan pepohonan rindang. Dari permukiman warga, masih ada terlihat rumah-rumah adat Batak yang masih digunakan pemiliknya sebagai tempat tinggal. Sesekali terlihat birunya air Danau Toba dari sela-sela rumah yang persis di belakangnya.

Plang penunjuk arah di tepi jalan melambatkan laju kendaraan pengunjung yang menandakan kalau lokasi objek desa wisata itu sudah berada di depan mata. Pengunjung tinggal memilih di lokasi mana mereka menikmati keindahan pantai yang masih dalam kawasan Danau Toba yang namanya sudah mendunia.

Lokasi pantai pasir putih sekitar 50 meter dari tepi jalan. Bagi pengunjung yang mengedarai roda empat, pihak pengelola menyediakan halaman parkir yang cukup luas. Sepuluh meter dari tepi jalan menuju pantai, dua rumah adat Batak seolah menyambut kedatangan pendatang. Rumah adat yang masih digunakan sebagai tempat tinggal itu belum berubah bentuk sebagaimana awal pendiriannya. Rumah-rumah adat Batak yang berdiri di landasan pasir putih itu sering dimanfaatkan para wisatawan untuk mengabadikan momen spesial dengan berfoto ria.

"Ini warisan sejarah yang perlu diabadikan. Kayaknya belum ada perubahan bentuk," kata Ade Priadi, 40 tahun, wisatawan asal Medan usai berfoto di tangga rumah adat kepada www.inilahmedan.com, Jumat (13/03/2020).

Kesan asri masih begitu kental di objek wisata itu. Hanya saja pihak pengelola yang merupakan masyarakat setempat sengaja mendirikan tenda-tenda buat para wisatawan yang datang bersama keluarga dan rekan sejawat.

Pasir putih membentang lebar di sepanjang bibir pantai. Bagi turis mancanegara, lokasi itu tidak kalah elok dengan Pantai Kuta Bali untuk berjemur. Di pantai itu, wisatawan disajikan dengan pemandangan bukit yang membelah danau dengan garis pantai memutih.

Bagi yang hobi bermain speedboat, pihak pengelola juga menyediakannya. Bagi yang hobi berdayung sampan juga ada. Dan yang doyan mengeksplor garis pantai juga disediakan sepedamotor roda tiga dengan tarif yang terjangkau. Plus minuman es kelapa muda dan panganan lainnya juga tersedia. Komplit. Diterpa sengatan matahari, deruan angin pantai yang sejuk menetralkan suasana gerah. Berembus sepoi-sepoi.

Objek wisata Pantai Pasir Putih Bulbul Nauli jika dikelola dengan serius tentu saja bakal ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Kurangnya pengelolaan dan minimnya campur tangan pemerintah setempat menjadikan lokasi wisata ini masih menyembunyikan diri dari para petualang wisata mancanegara.

"Kita sebenarnya prihatin karena objek wisata ini hanya ramai pada hari-hari tertentu," timpal Charles, 55 tahun, wisatawan asal Kota Medan yang datang bersama temannya Ade Priadi.

Jika ada niat serius pemerintah setempat untuk mengelola objek wisata Pantai Pasir Putih Bulbul Nauli, tentunya keberadaan wisata desa itu bisa mendunia seperti Bali. Dengan begitu, kesan pengunjung hanya ramai pada hari-hari tertentu bisa menjadi ramai sepanjang hari.

Tentunya dengan gencar melakukan promosi-promosi. Seperti aktif melibat pegiat media sosial, youtuber, instagram dengan membuat konten-konten menarik di lokasi objek wisata. Tapi sebelum menuju ke arah itu, pemerintah setempat tentunya harus berani mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk melakukan pembenahan di sana sini. Misalnya 'menyulap' kawasan sehingga muncul imej sebagai kawasan wisata dengan melibatkan masyarakat sekitar atau lembaga-lembaga swasta yang bergerak di bidang kepariwisataan.

Dari sana mungkin muncul ide-ide kreatif. Seperti menghidupkan budaya kearifan lokal atau pertunjukan seni adat dan budaya yang terus ada setiap hari dengan melibatkan pelaku-pelaku seni. Tentunya ini harus menyiapkan dana yang tidak sedikit. Tidak salah kalau pemerintah setempat mencontoh Bali yang setiap hari menampilkan seni budaya di setiap objek wisata andalannya. Kemudian melibatkan para pelaku UKM dengan memajangkan produk kerajinan tangan tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal.

Untuk sampai ke arah sana, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rintangan-rintangan tentu saja ada. Tapi kalau niat lurus untuk memajukan wisata daerah, jalan masih terbuka. (bambang sri kurniawan)
Komentar

Berita Terkini