Habiskan Dana Rp2,9 Miliar, Irigasi di Tigabinanga 10 Tahun tak Berfungsi
INILAHMEDAN - Karo: Masyarakat dari 6 desa di Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo, mengeluhkan irigasi Pora Kacih Lau Tir Desa Gunung, Kecamatan Tigabinanga, sudah 10 tahun tidak berfungsi. Dampaknya, 600 hektar areal persawahan mengalami kekeringan dan terpaksa beralih fungsi ke areal perladangan.
“Sejak tahun 2004 penanganan irigasi Pora Kacih diserahkan Pemprovsu ke Pemkab Karo. Sejak saat itu irigasi yang sumber airnya berasal dari Sungai Lau Jandi mengalami kerusakan dan hingga kini tidak dapat difungsikan. Akibatnya areal persawahan mengalami kekeringan. Mau tidak mau masyarakat terpaksa mengalihfungsikan lahan pertaniannya menjadi areal perladangan,” kata tokoh masyarakat Kecamatan Tigabinanga, Jaya Peranginangin dan Bijo Sebayang kepada wartawan di areal irigasi Pora Kacih Desa Gunung, Karo, Senin (17/09/2018).
Menurut Jaya, didampingi Ketua Kelompok Tani Batu Gale, Joker Sebayang dan Kepala Desa Gunung, Nirwan Sebayang, masyarakat sudah berulang kali bermohon kepada Pemkab Karo agar irigasi tersebut diperbaiki. Tapi sudah sepuluh tahun dimohonkan belum juga ada hasilnya. Padahal anggaran perbaikannya sudah dikucurkan mencapai Rp2,9 miliar.
“Informasi yang kita peroleh, anggaran perbaikan irigasi ini sudah dialokasikan di APBD Karo sebesar Rp2,9 miliar. Pada TA 2016 dialokasikan sebesar Rp1,3 miliar. Pada 2017 Rp1 miliar, di P-APBD Karo TA 2017 juga dialokasikan Rp200 juta dan di APBD 2018 kembali dialokasikan Rp400 juta," kata Jaya.
Bagi masyarakat, kata Jaya, tidak menjadi masalah berapa pun nilai anggaran perbaikannya sudah habis terkuras. Terpenting, sebut dia, irigasi itu bisa difungsikan kembali agar areal persawahan masyarakat di 6 desa bisa ditanami kembali.
Sementara itu Kadis PUPR (Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat) Karo Paten Purba melalui Kabid PPK SDA (Sumber Daya Air) Helmin Sitepu mengaku sudah mengucurkan anggaran perbaikan irigasi dari APBD Karo sejak 2016-2018 sebesar Rp2,9 miliar. Tapi dana itu belum mencukupi karena kerusakan irigasi sangat parah dan perlu bantuan anggaran dari pusat melalui DAK (Dana Alokasi Khusus).
“Perbaikan irigasi ini harus dibantu pusat. Kalau hanya mengandalkan APBD Karo, tidak akan mampu memperbaikinya karena banyak kerusakan. Bahkan ada terjadi kebocoran sehingga diperlukan pembuangan air irigasi agar benteng yang sudah lama dibangun tidak jebol. Untuk sementara kita targetkan akhir 2018 ini tuntas dan sebahagian dapat difungsikan kembali,” katanya.
Kata Sitepu, irigasi saat ini dalam kondisi bagus dan siap difungsikan antara Desa Pergendangen hingga Gertak Kuala sepanjang 5,5 Km. Keadannya saat ini tinggal 15 persen lagi perlu perbaikan. Sedangkan ruas Lau Kapur sepanjang 4,5 Km kondisinya 40 persen masih bangunan lama. Untuk perbaikannya dibutuhkan anggaran sebesar Rp8,5 miliar.
“Tapi kami menargetkan pada akhir tahun 2018 ini sebahagian irigasi sudah dapat difungsikan sesuai tuntutan masyarakat agar areal pertanian mereka dapat difungsikan kembali,” ujar Sitepu sembari mengakui sejak irigasi itu rusak, masyarakat beralih fungsi menanam jagung dari yang sebelumnya menanam padi. (imc/bsk)
