![]() |
Wagub Sumut Nurhajizah Marpaung bersama Deputi Bidang Koordinasi SDM, Iptek dan Budaya Maritim Kemenko Maritim Safri Burhanuddin dan Staf Ahli Menteri Kementerian Lingkungan Hidup Sabrina.(foto: ist)
|
INILAHMEDAN - Parapat: Pemprov Sumut terus bekerja mempersiapkan Geopark Kaldera Toba (GKT) menuju Unesco Global Geopark (UGG). Wakil Gubernur Sumut Nurhajizah Marpaung mengaku pihaknya terus bekerja memastikan kesiapannya sebelum masuk penilaian pada Juli mendatang.
"Kami terus mempersiapkan diri. Termasuk kembali menyusun masterplan pengembangan Geopark Kaldera Toba. Kami sudah mengundang ahli Geopark dari Prancis dan Malaysia," kata Nurhajizah saat evaluasi persiapan GKT menuju UGG di Aula Mess Pora-Pora Tengku Rizal Nurdin, Parapat, Kamis (17/05/2018) malam.
Meski punya kesibukan lain, kata dia, jajaran Pemerintah Provinsi Sumut khususnya dinas terkait, Badan Pengelola GKT, para pakar dan pemerintah kabupaten se-kawasan Danau Toba terus berbenah dan memperbaiki kekurangan yang ada.
"Waktu kurang dari dua bulan lagi," katanya.
Pemprov Sumut, kata Nurhajizah, juga meminta masukan dari para pakar, pelaku budaya dan lainnya. "Kami harus terus bekerja. Kami berharap tidak ada malam. Maunya siang terus supaya kami bisa kerja terus. Makanya satu bulan ini, setengah tim ke lapangan, setengah lagi menyiapkan masterplan," sebut Nurhajizah.
Deputi Bidang Koordinasi, Iptek dan Budaya Maritim Menko Maritim Safri Burhanuddin mengatakan ada beberapa hal yang memang perlu mendapat penanganan serius. Di antaranya pengelolaan sampah yang masih banyak terlihat di sejumlah titik geosite sekaligus objek wisata yang kerap dikunjungi wisatawan.
Staf Ahli Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sabrina menambahkan berdasarkan hasil pemantauannya di lapangan sudah ada papan informasi penunjuk arah terpasang dengan baik. Ini akan memudahkan pengunjung untuk mendapatkan lokasi yang dituju.
"Kalau bisa papan informasi jangan sampai merusak pemandangan. Kemudian kekayaan alam yang ada semua dimasukkan ke pusat informasi, menambah yang sudah ada. Memang banyak yang menurut kita tidak perlu, tetapi bagi orang lain itu hal menarik. Seperti jenis burung, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya," jelasnya.
Sabrina juga mengatakan pentingnya memperhatikan penataan lokasi geosite khususnya pada objek wisata. Misalnya ketersediaan lahan parkir, tempat makan minum dan pusat cinderamata. Dengan begitu, kata dia, tiga unsur utama untuk Geopark bisa dipenuhi. Yakni konservasi, edukasi (pendidikan) dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
"Keberadaan toilet banyak juga yang harus diperbaiki. Harus standard, tersedia air. Untuk atraksi sudah oke, tinggal bagaimana mengelolanya. Begitu juga konservasi, sudah ada tetapi belum diinformasikan. Jadi ibarat sebuah ruangan, ketika masuk, isinya apa?" sebutnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Wan Hidayati mengatakan hingga kini pihaknya terus berupaya melengkapi persyaratan yang diberikan Unesco untuk mendapatkan pengakuan sebagai taman bumi atau Geopark. Mulai dari aspek geologi, budaya, lingkungan ekonomi dan lainnya untuk dibenahi.
"Dengan menjadi anggota Unesco, maka pariwisata Danau Toba akan mendunia dan dampaknya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Sebab seluruh aspek akan dikembangkan. Melalui evaluasi ini juga, kami harapkan masukan dari berbagai pihak untuk bisa membenahi apa saja yang masih kurang," katanya.
Pemprov Sumut, kata Hidayati, akan kembali menyurati pemerintah kabupaten se-kawasan Danau Toba untuk memperhatikan pengelolaan sampah yang masih menjadi persoalan, khususnya saat assesor Unesco melakukan penilaian di seluruh titik lokasi geosite.
"Kami juga berharap dukungan seluruh masyarakat. Dengan begitu, Danau Toba akan diakui sebagai objek pariwisata kelas dunia, selain diakui sebagai taman dunia," pungkasnya. (imc/bsk)
