|

Pasien ISPA Meningkat di Siantar, Influenza A Belum Ditemukan

Kepala IGD RS Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar Yabes Kafiar.(foto: har)

INILAHMEDAN - Pematangsiantar: Pasien penderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di Kota Pematangsiantar mengalami peningkatan dalam seminggu terakhir. Tren kenaikan pasien dialami berbagai kelompok usia, mulai bayi, anak-anak, remaja, hingga lansia.

Kepala IGD RS Murni Teguh Horas Insani Pematangsiantar Yabes Kafiar mengatakan gejala umum yang dialami pasien meliputi demam tinggi, batuk, pilek, hingga nyeri pada sendi.

"Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), dalam satu minggu terakhir meningkat. Gejalanya demam, batuk, pilek, nyeri persendian,"  kata Yabes, Kamis (08/10/2026).

Ia menjelaskan faktor pemicu ISPA beragam. Mulai dari infeksi virus hingga kondisi lingkungan sekitar seperti pencemaran udara.

"Faktornya banyak ya. Kalau ISPA itu banyak. Jadi bisa karena virus, bisa karena polusi udara, kabut, asap, kemudian ada abu vulkanik. Itu terutama," ungkapnya.

Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai maraknya isu penderita Influenza A yang kerap disamakan dengan Covid 19, Yabes mengatakan kedua penyakit tersebut hal yang berbeda.

"Kalau Covid 19 penyebabnya SARS-CoV-2, kalau Influenza ya penyebabnya virus Influenza. Cuma gejalanya yang disamakan sama persebarannya. Pada Covid ringan kan demam, batuk, pilek juga," jelasnya.

Untuk memastikan apakah seorang pasien terinfeksi virus Influenza A, B, atau varian lainnya, diperlukan pemeriksaan swab. Menurutnya, karakter virus influenza memang bersifat musiman dan dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting) jika daya tahan tubuh pasien baik.

"Semua faktor risiko yang imunnya turun, imunnya lemah. Terutama kita harus takut pada yang komorbid. Orang tua, lansia punya komorbid, risikonya kesannya cuma demam batuk pilek, tapi jatuhnya jadi kondisi berat, jadi sesak," katanya.

Pihak rumah sakit mengimbau masyarakat untuk membedakan antara tindakan pencegahan dan penanganan medis. Untuk pencegahan, penggunaan masker dan pemberian vaksinasi influenza menjadi langkah utama. Sementara untuk penanganan awal mandiri di rumah, pasien disarankan mengonsumsi obat sesuai gejala, beristirahat cukup, dan menjaga asupan cairan.

"Ketika 1-2 hari demamnya tak kunjung turun, dan cenderung tetap tinggi, malas makan, minum, lebih baik ke faskes. Boleh puskesmas, klinik, ataupun rumah sakit," katanya.

Ia memberikan perhatian khusus bagi pasien anak-anak yang rentan mengalami komplikasi akibat demam tinggi.(imc/har)

Komentar

Berita Terkini