![]() |
| Mantan Sekretaris Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Partai Golkar Sumatera Utara Zainal Arifin Sinambela.(foto: dok) |
INILAHMEDAN - Medan: Mantan Sekretaris Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Partai Golkar Sumatera Utara Zainal Arifin Sinambela menyoroti proses konsolidasi dan penyusunan kepengurusan Partai Golkar Sumut periode 2025–2030 pasca terpilihnya Andar Amin Harahap sebagai Ketua Partai Golkar Sumut.
Zainal menilai terdapat sejumlah persoalan dalam proses penyusunan struktur kepengurusan baru yang dinilainya perlu menjadi perhatian serius internal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.
Menurutnya, mekanisme organisasi dan disiplin partai harus menjadi dasar utama dalam menentukan posisi strategis di tubuh partai.
“Dalam proses revitalisasi kepengurusan ini, terdapat anomali yang perlu dievaluasi. Ada kader yang sebelumnya dinilai tidak sejalan dengan keputusan resmi partai, namun kembali mendapatkan posisi strategis dalam struktur organisasi,” ujar Zainal.
Ia menyoroti penempatan Yasir Ridho Lubis sebagai Ketua Harian dan Rolel Harahap sebagai Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan DPP Partai Golkar Nomor SKEP-138/DPP/GOLKAR/XII/2025.
Zainal mengungkapkan, keputusan tersebut menjadi sorotan karena adanya catatan politik dalam kontestasi Pilkada 2024.
Ia menyebut, Yasir Ridho sebelumnya tetap maju sebagai calon Wakil Wali Kota Medan pada Pilkada Serentak 2024, sementara Partai Golkar secara resmi mendukung pasangan Rico Tri Putra Bayu Waas–Zakiyuddin Harahap yang akhirnya memenangkan Pilkada Kota Medan.
“Ketika partai sudah menetapkan arah politik, maka kader seharusnya memiliki tanggung jawab untuk mengikuti keputusan tersebut,” katanya.
Zainal juga menyoroti rekam jejak Rolel Harahap yang sebelumnya maju sebagai calon Wakil Wali Kota Tanjung Balai pada Pilkada 2024 dengan dukungan sejumlah partai politik lain, sementara Partai Golkar secara resmi mengusung Mahyaruddin Salim yang kemudian memenangkan kontestasi tersebut.
“Namun kini keduanya kembali mendapatkan ruang strategis di Partai Golkar Sumut. Ini menimbulkan pertanyaan terkait arah kaderisasi dan penghargaan terhadap loyalitas kader,” ujarnya.
“Jangan sampai kader yang berjuang membesarkan partai justru kehilangan ruang, sementara kader yang sebelumnya mengambil jalan berbeda kembali mendapatkan posisi penting,” sambungnya.
Menurut Zainal partai besar seperti Golkar harus mampu membuka ruang regenerasi dan memberikan kesempatan kepada kader muda untuk berkembang.
“Organisasi tidak boleh hanya berputar pada kepentingan jabatan, tetapi harus membangun kekuatan kaderisasi,” katanya.(imc/rel)
