|

Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Panic Buying BBM di SPBU Pematangsiantar

Kepanikan melanda masyarakat Kota Pematangsiantar menyusul eskalasi konflik militer antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang kian memanas di awal Maret 2026.(foto: har)

INILAHMEDAN - Pematangsiantar: Kepanikan melanda masyarakat Kota Pematangsiantar menyusul eskalasi konflik militer antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang kian memanas di awal Maret 2026.

Ketegangan ini memicu aksi panic buying atau pembelian berlebihan bahan bakar minyak (BBM), yang menyebabkan antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Pematangsiantar.

Berdasarkan pantauan wartawan di sejumlah SPBU Pematangsiantar, Jumat (/6/03/2026) menunjukkan antrean kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, mengular hingga lebih dari 1 kilometer di beberapa titik seperti SPBU Jalan Melanthon Siregar, Jalan Ahmad Yani, Jalan Medan Km 4,5, Jalan Medan Km 6, Jalan Sisingamaraja, Jalan Patuan Nagari Parluasan, Jalan Sangnauwaluh Simpang Sambo dan Jalan Rakutta Sembiring.

Situasi ini dipicu oleh kekhawatiran warga akan gangguan pasokan minyak global akibat potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, serta isu kenaikan harga BBM yang diprediksi akan terjadi dalam waktu dekat.

Menteri ESDM sebelumnya sempat menyatakan bahwa cadangan BBM nasional berada di level aman untuk 20 hari ke depan. Namun, informasi tersebut justru disalahartikan oleh sebagian masyarakat sebagai sinyal kelangkaan yang akan datang, sehingga memicu warga untuk berbondong-bondong memenuhi tangki kendaraan mereka.

Di tengah terik matahari dan antrean yang mengular, salah seorang warga, Mega, mengungkapkan keresahannya.

"Sebenarnya was was juga lihat orang-orang ramai begini. Jujur saya ikut panik karena lihat yang lain panik. Kalau nggak ikut antre sekarang, takutnya besok beneran kosong atau harganya sudah naik tinggi. Apalagi saya kerjaannya harus wara-wiri setiap hari," ujarnya.

Hal senada dikatakan warga lainnya, Sarifin mengatakan kepanikan yang terjadi saat mendengar Menteri ESDM sebelumnya sempat menyatakan bahwa cadangan BBM nasional berada di level aman untuk 20 hari ke depan.

"Kabarnya stok cuma cukup buat 20 hari, sementara perang di Timur Tengah sepertinya makin parah. Kami rakyat kecil cuma bisa jaga-jaga. Takutnya kalau Selat Hormuz ditutup, pasokan ke kita beneran terhenti," tuturnya.(imc/har)

Komentar

Berita Terkini