52 Tahun Berdiri, Ini Kinerja Bank Sumut dan Nasehat Gubernur
INILAHMEDAN - Medan: Bank Sumut mendulang prestasi. Setelah 52 tahun berdiri, bank itu mencetak laba tertinggi setelah 52 tahun berdiri. Kinerja kinclong bank milik Pemprovsu itu diapresiasi Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi. Tapi Gubernur berpesan agar manajemen Bank Sumut jangan lekas berpuas diri.
"Bank Sumut jangan lekas berpuas diri dengan prestasi ini," kata Tengku Erry Nuradi pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Sumut tahun buku 2016 dan RUPS Luar Biasa di Ballroom kantor pusat Bank Sumut di Medan, Sabtu (03/06/2017).
Tengku Erry menilai pencapaian Bank Sumut ini sangat baik. Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global 2016, Bank Sumut masih mampu menunjukkan perbaikan kinerja dan pertumbuhan yang signifikan bila dibanding dengan tahun sebelumnya. Bahkan laba bersih Bank Sumut untuk 2016 tercatat sebesar Rp584,5 miliar.
"Laba ini merupakan pencapaian tertinggi setelah 52 tahun Bank Sumut berdiri," kata Tengku Erry.
Dilihat dari laporan dan kinerja keuangan Bank Sumut saat ini, sebut Tengku Erry, memang sudah lebih baik. Ini bisa dilihat dari beberapa indikator. Di antaranya total aset Bank Sumut mengalami kenaikan. Laba bersih memecahkan rekor setelah 52 tahun berdiri.
Hadir dalam RUPS Bank Sumut itu Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Sumbagut Lukdir Gultom, Dirut Bank Sumut Edie Rizliyanto, Komisaris Utama PT Bank Sumut Rizal Fahlevi Hasibuan, anggota komisaris Hendra Arbie, jajaran direksi Bank Sumut, serta Bupati dan Wali Kota pemegang saham Bank Sumut.
Sebelumnya, laba bersih Bank Sumut 2014 dan 2015 lebih rendah dari laba bersih 2013. Laba bersih 2013 mencapai Rp531 miliar, sementara laba bersih 2014-2015 berkisar Rp465 miliar.
Begitu pun, kata Tengku Erry, masih terdapat pertumbuhan di bawah rata-rata perbankan di Sumut seperti dana pihak ketiga (DPK) juga total aset Bank Sumut yang tercatat masih berada di bawah pertumbuhan perbankan Sumut.
Tengku Erry berharap Bank Sumut lebih meningkatkan pertumbuhan kredit dan jangan semata hanya mengandalkan proyek pembangunan di Sumut. Tapi harus turut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menyalurkan kredit kepada UMKM.
Hal kedua yang perlu diperhatikan Bank Sumut, imbau Tengku Erry, adalah angka kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) Bank Sumut yang tercatat pada triwulan I kecenderungannya meningkat yakni 5,65 persen. Kondisi ini dikhawatirkan bisa melampaui ambang batas yakni 6 persen.
“Kita harapkan NPL pada Desember 2016 lalu sebesar 4,7 persen ini dapat dipertahankan sehingga tidak berada melewati ambang batas,” jelasnya.
Komisaris Utama PT Bank Sumut Rizal Fahlevi Hasibuan mengatakan peningkatan laba bersih Bank Sumut 2016 karena pendapatan bunga dan syariah meningkat sebesar 10,01 persen. "Ini dampak dari penyaluran kredit dan pembiayaan syariah," kata Rizal.
Untuk aset Bank Sumut 2015 meningkat sebesar 8,45 persen yang semula sebesar Rp24.130 miliar pada tahun 2016 menjadi sebesar Rp26.170 miliar. Peningkatan aset ini didorong oleh kenaikan kredit serta dana pihak ketiga yang tercatat sebesar Rp20.804 miliar atau tumbuh 6,94 persen dari tahun sebelumnya. Sementara, dari sisi penyaluran kredit tahun 2016 di segmen konvensional mencapai Rp17.189 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 4,99 persen dari tahun 2015. Begitu juga dengan rasio keuangan lainnya mengalami pertumbuhan yang baik.
Lebih lanjut dikatakan Rizal, untuk return on asset (ROA) tahun 2016 mencapai 2,74 persen dari sebelumnya 2,31 persen. Return on equity (ROE) tahun 2016 mencapai 24,84 persen dari sebelumnya 23,90 persen.
Sementara Net Interest Margin (NIM) meningkat dari sebelumnya 7,26 persen menjadi 7,89 persen. Terjadi efisiensi pada biaya operasional pendapatan opersional (BOPO) yang menurun dari 82,16 persen di tahun 2015 menjadi sebesar 79,54 persen. Selain itu angka kredit macet (NPL) juga menunjukkan perbaikan yakni menurun dari sebelumnya sebesar 5,00 persen di tahun 2015 menjadi 4,70 persen di tahun 2016. (bsk)
