-->
    |

Musa Rajekshah: Masjid Harus Mampu Makmurkan Ekonomi Umat

Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah menghadiri Pelatihan Nasional untuk Pemberdayaan dan Pemulihan Ekonomi Masa Pandemi Berbasis Masjid, di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Sabtu (30/10/2021).(foto: humas provsu)


INILAHMEDAN - Yogyakarta: Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah berharap selain dimakmurkan, masjid juga harus mampu memakmurkan umat dan masyarakat sekitarnya. Masjid harus dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

Hal tersebut dikatakan Wagub Musa Rajekshah saat menghadiri Pelatihan Nasional untuk Pemberdayaan dan Pemulihan Ekonomi Masa Pandemi Berbasis Masjid, di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Sabtu (30/10/2021). Kegiatan tersebut juga diikuti masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.

Musa Rajekshah mengapresiasi antusias masyarakat dari berbagai daerah yang cukup ramai menghadiri kegiatan ini. Artinya, banyak umat yang berkeinginan agar masjid itu bukan hanya dimakmurkan tapi juga mampu memakmurkan umat dan masyarakat yang ada di sekitarnya secara ekonomi.

"Kalau sebagai tempat ibadah itu sudah pasti. Tapi ekonomi juga harus bisa bangkit melalui masjid. Alhamdulillah, antusias umat begini ramainya," ungkapnya.

Karena itu, Musa Rajekshah berharap, Masjid Jogokariyan ini dapat menjadi inspirasi bagi masjid-masjid di seluruh Indonesia, khususnya di Provinsi Sumut untuk dapat melakukan hal serupa dalam hal memakmurkan umat. "Insya Allah, akan lahir masjid seperti masjid Jogokariyan ini di daerah-daerah," harapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Syuro Masjid Jokokariyan Ustaz Muhammad Jazir menyebutkan, dirinya melihat bahwa untuk menanggulangi mata rantai kemiskinan dapat lebih cepat dilakukan melalui masjid. Sebab menurutnya, potensi keuangan yang dimiliki masjid sebetulnya cukup besar.

"Terutama Sumatera Utara. Karena kalau kita lihat data tanah wakaf di seluruh Indonesia yang paling luas itu di Sumatera Utara," ujarnya.

Jazir menjelaskan, jumlah tanah wakaf di Indonesia menurut data Kementerian Agama, adalah 5,6 miliar meter persegi atau tujuh kali luas Negara Singapura. Dari jumlah itu, yang terbesar berada di Sumut, hanya saja tanah wakaf di provinsi ini konsumtif dan sering menjadi beban rakyat.

"Nah kalau manajemen tanah dan bangunan wakaf bisa produktif bahkan progresif, kesejahteraan rakyat tentu akan lebih cepat (dicapai)," jelasnya.

Karena itu, menurut dia, langkah ini tentu bisa dimulai dari Provinsi Sumut yang potensi dan kesadaran wakafnya sangat besar.

"Contohnya saja Almarhum Bapak H Anif sudah sekian banyak yang dibangunnya, dan itu baru satu orang. Jadi mudah-mudahan kita bisa memulai, yakni ide dan inspirasi dari Jogja tapi nanti eksekusi terbesar itu di wilayah paling potensial yakni di Sumut," pungkasnya.

Pelatihan nasional pemulihan ekonomi melalui masjid ini sendiri diisi oleh materi tentang teori kesejahteraan rakyat berbasis masjid yang dihadiri oleh para pelaku yang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan jemaahnya dari masjid. Kegiatan ini juga dihadiri oleh ratusan peserta yang berasal dari 16 provinsi termasuk dari Provinsi Sumut.(imc/bsk)

 

 

Komentar

Berita Terkini