![]() |
Calon Wakil Gubernur Sumut Sihar Sitorus saat berada di tugu perbatasan Sumatera Utara - Sumatera Barat di Mandailing Natal, pekan lalu. (foto: bcl comm)
|
INILAHMEDAN - Madina: Menapaki jalan negara yang menghubungkan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) memberikan makna tersendiri bagi Sihar Sitorus. Calon Wakil Gubernur Sumut nomor urut dua tersebut menilai batas tersebut menjadi penghubung dalam perbedaan wilayah.
Hal tersebut diungkapkan wakil dari H Djarot Saiful Hidayat tersebut usai mengunjungi perbatasan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat kemarin.
Batas yang memisahkan dua kabupaten yang berada di dua provinsi tersebut merupakan batas yang dapat dilalui dengan berjalan kaki. Bahkan warga di perbatasan juga dapat melakukan berbagai aktivitas tanpa ada gangguan.
"Ada anak-anak yang bermain di Sumbar. Anak-anak itu adalah warga Sumut. Mereka bangga menunjukkan ikan pancingan yang diambil dari salah satu sungai di Pasaman Barat," katanya.
Sihar mengatakan anak-anak tersebut adalah anak-anak Nusantara. Mereka dapat melangkah melewati batas serta berbaur dengan anak-anak di provinsi lain. Menurutnya, mereka adalah gambaran dari kebersamaan yang tidak pernah mempersoalkan batas wilayah, suku dan peradaban lainnya dalam membangun ikatan sosial.
"Mereka menunjukkan ikan-ikan tangkapan. Mereka tetap mengaku anak anak Madina. Namun mereka juga menunjukkan ikan dari sungai yang mereka pancing. Mereka bermain, menyapa dan itu sangat membanggakan," katanya.
Dari jejak di perbatasan itu, Sihar mengatakan warga dapat belajar untuk dapat menerima berbagai perbedaan dalam satu Nusantara. Menurut Cawagub Sumut yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini batas tersebut adalah jembatan untuk melihat perbedaan dalam kebersamaan.
"Sama-sama Indonesia, sama-sama memiliki kekerabatan dan menjadi saudara satu dengan yang lain," katanya. (imc/rel)
