INILAHMEDAN - Medan: Bakal calon Wakil Gubernur Sumut Sihar Sitorus menghadiri dialog terbuka yang digelar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dalam rangka Dies Natalis ke 68 GMKI di Catholic Center Medan, Senin (06/02/2018).
Momen tersebut menjadi ruang untuk para mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi, pendapat dan saran untuk calon pemimpin di Sumut. Di hadapan Sihar yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, sejumlah mahasiswa mengatakan pemimpin baru yang dicari melalui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di Sumut diharapkan dapat menyelesaikan sejumlah persoalan sosial.
Salah seorang mahasiswa, James Watt Peranginangin, mengatakan, Sumut membutuhkan pemimpin yang tidak otoriter serta mau mendengarkan suara rakyat. Sumut juga butuh pemimpin yang mampu mewujudkan pembangunan dengan skema yang memihak pada rakyat.
"Contohnya putus sekolah dan maraknya tempat prostitusi. Semua itu lahir karena kemiskinan. Kita berharap ada kiat khusus yang dimiliki pemimpin baru nantinya agar Sumut lebih baik," jelasnya.
Mahasiswa teknik elektro di Institut Teknologi Medan (ITM) tersebut berharap ke depan ada program mutakhir yang mampu menyelamatkan Sumut dari persoalan saat ini.
Mahasiswa lainnya, Lady Agustina Panjaitan, juga memaparkan hal yang sama. Mahasiswa yang menuntut ilmu di Fakultas Pendidikan Agama Kristen di Universitas HKBP Nommensen, Pematang Siantar, ini mengatakan setiap hari jumlah masyarakat miskin bertambah. Selain itu, perhatian terhadap masyarakat menengah dan orang orang jalanan juga minim. Termasuk masyarakat dengan gangguan jiwa dan kaum kaum tunawisma. Dia berharap hal tersebut terjawab dalam proses pencarian pemimpin Sumut di tahun ini.
"Kebetulan saya aktif dalam kegiatan sosial itu di lingkungan gereja dalam penanganan hal demikian. Sehingga kami yang pasti akan mencari pemimpin yang memiliki program ke arah itu," jelasnya.
Sementara Sihar Sitorus mengatakan persoalan yang ada saat ini merupakan persoalan bersama. Baik pemerintah maupun masyarakat.
Dari komposisi tanggujawab, kata dia, pemerintah memiliki porsi yang lebih besar. Karena harus mengacu pada keadilan sosial. Baik dari segi pendidikan, maupun penangan masalah-masalah di masyarakat yang ada saat ini.
Sihar mengungkapkan, kedatangannya bersama Djarot ke Sumut untuk menerapkan program pengembangan masyarakat ke arah yang lebih baik. Program tersebut, sebut dia, sudah tentu dibuat berpihak pada rakyat. Termasuk masyarakat miskin baik di perkotaan maupun di pedesaan.
"Kita bisa melihat Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang saat ini menjadi salah satu program terbaik dalam penanganan masalah sosial. Hal ini bisa kita terapkan di Sumut," jelasnya. (rel/bsk)
