Dua Program PLN Sumut di 2018, Ini Targetnya
INILAHMEDAN - Medan: PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara memproyeksikan target pendapatan perusahaan pada 2018 sebesar Rp11,941 triliun. Target ini dilakukan dengan cara menekan biaya pokok penyediaan listrik dan penjualan yang agresif.
General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara Feby Djoko Priharto mengatakan ada dua program besar yang akan dilaksanakan untuk mengejar proyeksi pertumbuhan pendapatan tersebut.
"Dari sisi pendapatan, kami proyeksikan akan tumbuh 11,8 persen atau dari 10,346 triliun di 2017 menjadi Rp11,941 triliun pada 2018," katanya, Rabu (24/01/2018).
Dia menjelaskan, secara nasional perusahaan fokus untuk menekan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik. Sebagai perusahan Public Service Obligation (PSO), harga jual/tarif tenaga listrik masih dibatasi dengan ceiling price (pembatasan harga atas).
Kondisi ini, menurut dia, menjadikan PLN memiliki risiko besar mengalami kerugian. Oleh karena itu PLN berupaya lebih keras melakukan penghematan guna menekan BPP listrik. Jika penghematan dapat dilakukan, maka BPP akan lebih rendah dari harga jual/tarif sehingga akan meningkatkan pendapatan.
"Salah satu upaya yang kita lakukan adalah dengan mengonversi bahan bakar pembangkit dari minyak ke gas, khususnya kapal pembangkit listrik atau Marine Vessel Power Plan (MVPP) MV Karadeniz Powership Onur Sultan berkapasitas 2x240 MW," katanya.
Kapal yang memasok listrik di Sumut mulai Juni 2017 itu direncanakan beralih menggunakan bahan bakar dari HFO (heavy fuel oil) ke gas bumi pada tahun ini.
"Saat ini energi primer masih menelan BPP terbesar karena sebagian besar pembangkit masih menggunakan bahan bakar minyak," katanya.
Upaya menekan BPP dari sisi bahan bakar juga akan ditopang dengan beroperasinya beberapa pambangkit yang tidak menggunakan BBM. Dalam Rencana Umum Pengembangan Ketenagalistrikan (RUPTL) sudah diproyeksikan adanya tambahan daya baru yang akan masuk sistem kelistrikan Sumut.
Di antaranya tambahan daya menjadi 330 MW dari PLTP Sarulla, PLTP Sorik Marapi 50 MW, PLTU Mabar (IPP) 300 MW serta PLTU Pangkalan Susu 3 dan 4 yang berkapasitas 2x200 MW.
"Kami proyeksikan akan ada pertumbuhan konsumsi energi listrik sebesar 10,3 persen atau dari 10,429 GWH pada 2017 menjadi 10,493 GWH pada 2018."
Upaya selanjutnya, kata dia, mendorong penyelesaian pembangunan jaringan Tol Listrik ke Sumut. Pengoperaian infrastruktur ini akan dapat menekan BPP secara signifikan karena 'energi murah' yang dipasok dari Sumatera Selatan tersebut berbahan bakar batu bara. Meski murah tetapi memiliki daya cukup besar, bisa ditransfer ke Sumut sampai dengan 400 MW.
"Tol Listrik ini akan mengalirkan daya dari Lahat di Sumsel sampai ke Aceh, melalui Sumut. Pengerjaan proyek ini di Sumut sempat terkendala sejak 2008 akibat permasalahan ganti rugi lahan," katanya.
Namun saat ini proses konsinyasi dan pembangunannya sudah hampir selesai dan dijadwalkan pada Maret 2018 mulai beroperasi penuh.
Feby Djoko menambahkan, dorongan pertumbuhan pendapatan juga akan dilakukan dengan melakukan penjualan yang agresif.
"Tingkat penjualan tenaga listrik pada 2017 yang cenderung menurun mendorong kami melakukan pemasaran yang lebih agresif untuk meningkatkan pendapatan di tahun 2018," sambungnya.
Untuk merealisasikan hal ini, sebut dia, PLN Sumut melakukan roadshow Shopping (Diskusi Hangat Potensi Pelanggan Premium dan Kondisi Jaringan). Dengan begitu PLN turut membantu pelanggan dalam mengatasi keluhan terkait instalasi dan jaringan listrik pelanggan serta mengajak para pelanggan tegangan menengah untuk menjadi pelanggan premium.
"Kami memproyeksikan pertumbuhan pelanggan sebesar 4,8 persen atau dari 3.421.185 pelanggan pada 2017 akan menjadi 3.587.889 di 2018."
Dia meyakini efisiensi operasional juga menjadi bagian dari upaya melakukan penjualan yang agresif, khususnya menekan susut distribusi.
"Kalau susut dapat ditekan berarti daya yang bisa dijual juga semakin banyak."
Menurut Feby Djoko, awal 2016 angka susut distribusi PLN Sumut masih berada di angka 13,38 persen dan di akhir 2016 sudah mengecil menjadi 10,86 persen. Angka susut pun semakin membaik di akhir 2017 menjadi 9,08 persen.
"Pada 2018 kami optimistis akan mengecil dari persentase itu," demikian katanya. (bsk)
