![]() |
| Andi Safrin, wartawan MNC TV terbaring lemah di Rumah Sakit Mitra Sejati akibat dipukuli personil TNI AU saat meliput unjuk rasa warga Kelurahan Sari Rejo. |
INILAHMEDAN - Medan: Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia, akhirnya membara, Senin (15/8) sore. Puluhan aparat TNI AU dan Paskhas Lanud Soewondo akhirnya kontak fisik dengan ratusan warga sipil. Bentrok dipicu terkait sengketa lahan.
Berdasarkan pemantauan di lokasi, beberapa sepeda motor dibakar. Plang kelurahan rubuh. Gerobak rokok tumbang. Bahkan dua wartawan yang tengah melakukan tugas jurnalistiknya kritis dipukuli aparat. Keduanya yakni Array Agus, wartawan tribun-medan.com dan Andi Safrin, wartawan MNC TV.
Kondisi Array mengalami luka ringan. Namun kondisi Safrin agak parah dan terpaksa dievakuasi ke Rumah Sakit Mitra Sejati. Safrin mengalami luka di pelipis mata sebelah kanan dan rusuk lebam akibat sikap prajurut TNI AU yang represif. Kamera, ID Card dan dompetnya dirampas. Kedua wartawan ini dianiaya ketika berada di kawasan Karang Sari, Jalan SMAN Dua, Kecamatan Medan Polonia, disaat aparat melakukan sweeping rumah-rumah warga. Aparat juga melakukan sweeping di Jalan Teratai. Warga kocar-kacir.
![]() |
Sementara tiga warga sipil juga dianiaya. Ketiganya yakni Hendro Gunawan, Tri Wisesa dan Iqbal. Sejauh ini belum diketahui bagaimana kondisi ketiganya.
Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (ITJI), Yadi Hendriana, yang juga Pemimpin Redaksi (pemred) MNC Grup mengaku dirinya sudah dikontak pihak TNI AU atas aksi bentrok dan penganiayaan wartawan.
“Semua alat-alat jurnalistik wartawan yang dianiaya sudah dikembalikan. Pihak TNI AU katanya akan mengadakan pertemuan dengan korban. Mereka ingin meminta maaf atas peristiwa penganiayaan wartawan tersebut," kata Yadi.
Sementara itu, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) mendesak agar tindakan kekerasan TNI AU dan Paskhas Lanud Suwondo Medan kepada dua wartawan diproses secara hukum.
"FJPI mendesak pelaku diproses secara hukum karena ini bukan kali pertama TNI AU bertindak arogan kepada wartawan," kata Ketua FJPI, Ramdeswati Pohan.
Tak hanya itu, FJPI mengajak seluruh jurnalis di Indonesia, khususnya di Medan untuk melakukan aksi solidaritas untuk mendukung kedua wartawan yang saat ini sedang mendapatkan perawatan di RS Mitra Sejati Medan.
"Media menolak jalur damai karena ini sudah keterlaluan," ujar Desi.
Aksi kekerasan kepada Safrin dan Array terjadi saat meliput aksi massa dari warga Sari Rejo yang ingin mempertahankan tanah mereka yang ingin dijadikan Rumah Susun Sewa (Rusunawa).
"TNI AU dan Paskhas Lanud Suwondo menyerang dengan menggunakan kayu, pentungan, tombak dan laras panjang. Mereka melakukan kekerasan dengan memukuli serta memijak-mijak wartawan. Ini informasi yang kami dapat dari kawan-kawan wartawan yang juga meliput di sana. Jadi sebenarnya bukan cuma mereka berdua saja yang diserang," katanya.
"Lagi duduk di sebelah ibu itu, aku ditarik, dihantam kayu broti, diseret-seret dan dipijak-pijak," katanya.
"Aku sudah teriak, aku wartawan..aku wartawan..sambil menunjukkan identitasku. Tapi orang itu bilang, gak urus! Gak urusan saya itu. Dia terus menyeret serta menginjak-injak," sambungnya.
Sebelumnya, ratusan warga histeris sesaat mengetahui ada temannya yang diciduk dan disiksa petugas TNI AU saat unjuk rasa. Puluhan ibu-ibu yang berada di lokasi berusaha menerobos brikade petugas TNI AU.
Komandan Lanud Soewondo, Kolonel Ariefien, langsung meminta anggotanya untuk tidak kembali melakukan pemukulan. Ariefien meminta agar semua pasukan TNI AU tenang.
"Jangan dipukuli! Sudah, sudah. Diamankan saja. Enggak ada yang boleh main kekerasan," teriak Ariefien. (as)


