Cerita Tentang Makam Syekh Hamzah Fansuri di Gampong Oboh
MAKAM sang penyair itu terletak di Gampong Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam. Lokasi makam sekitar 15 Kilometer dari pusat Kota Subulussalam, tepatnya sekitar 20 meter dari Lae Soraya (sungai Soraya).
Banyak yang mengklaim makam Syekh Hamzah Fansuri ada di daerah Ujung Pancu, Kabupaten Aceh Besar, juga ada di Malaysia. Namun, lebih banyak masyarakat Aceh cenderung kalau Syekh Hamzah Fansuri dimakamkan di tanah jujur yaitu Gampong Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam.
Penjaga makam Syekh Hamzah Fansury di Gampong Oboh, Nek Abdullah, 66 tahun, mengaku tidak mengetahui secara detail sejarah Syekh Hamzah Fansuri. Namun, berdasarkan cerita orang tua dahulu, Syekh Hamzah Fansuri dikenal ahli fikih juga ahli suluk. Asal muasalnya datang dari negeri Barus antara Aceh Singkil dan Barus, Sumatera Utara. Syekh Hamzah Fansuri pernah tinggal di istana Kerajaan Aceh.
Masyarakat Gampong Oboh hanya mengetahui kisah Syekh Hamzah Fansury yang sangat melegenda, yaitu tanah jujur atau lebih dikenal tanah kuburannya.
"Menurut cerita, mengapa Syekh Hamzah Fansury dimakamkan di Gampong Oboh, karena saat musim menanam padi Hamzah Fansury dan keluarganya menanam sekaleng padi, panennya pun sekaleng. Saat di daerah lain Hamzah Fansury menanam padi sekaleng, hasil panennya menjadi ratusan kaleng. Hamzah Fansury berkesimpulan, di Gampong Oboh inilah dikatakannya tanah jujur," ujar Abdullah dibenarkan warga seputaran makam Syekh Hamzah Fansury.
Sampai saat ini makam Syekh Hamzah Fansury itu sering dikunjungi oleh masyarakat Kota Subulussalam, Aceh Singkil dan berbagai daerah lainnya, termasuk wisatawan mancanegara.
Syekh Hamzah Fansuri dikenal sebagai ahli tasauf, ahli fikih, ahli sastra, dan penyair yang mendunia. Menurut A. Theew, Hamzah Fansuri penyair pertama Indonesia dan beliau juga yang menggunakan bahasa Melayu dalam syairnya. Beliau hidup sekitar abad 16 dan 17.
Karya-karya Hamzah Fansuri antara lain “Syair Perahu, Syair Burung Pingai” dan lainnya. “Syair Perahu” berisi petuah tetang kehidupan agar tetap memelihara amal kebaikan, dengan menggunakan gaya bahasa syair Ruba'inya di mana setiap bait syairnya terdiri empat baris dengan akhiran yang sama. Dan banyak bukunya sering disebut dalam manuskrip/naskah kuno “Sejarah Melayu” seperti “Durrul Manzum” (Benang Mutiara) dan “Al-Saiful Qati” (Pedang Tajam).
Dalam kisah buku “The Mysticcism of Hamzah Fansuri” menyebut Hamzah Fansuri sebagai Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang sangat terkenal pada zaman itu.
Hamzah Fansuri yang hidup dan berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), merupakan tokoh utama yang mengangkat bahasa Melayu dari bahasa Lingua-Fransca menjadi bahasa ilmu dan sastra. Wh
