-->
    |

Divonis Pidana 'Mati', Karir Polisi Aipda Roni Tamat

Ketuk palu hakim. (foto : dok) 

INILAHMEDAN
- Medan: Tamat sudah karir polisi Roni Syahputra yang berpangkat Aipda bertugas di Polres Pelabuhan Belawan. Pasalnya, dirinya terpidana mati kasus pembunuhan berencana terhadap dua wanita, telah dipecat dari kepolisian.

"Iya, setelah putusan dalam persidangan itu inkrah, yang bersangkutan langsung dipecat, pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) terhadap Aipda Roni," ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi pada Jumat (29/10/21). 

Sebagaimana diketahui, hakim Pengadilan Negeri Medan menjatuhi vonis mati terhadap terdakwa Aipda Roni yang masih mengajukan proses banding ke Pengadilan Tinggi (PT).     

Aipda Roni terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap Riska Putria dan Aprila Cinta sebagaimana pasal 340 KUHP.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menyatakan hal yang memberatkan perbuatan terdakwa menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan bagi keluarga korban. 

Terdakwa Aipda Roni Sahputra. (foto : dok)  

Selain itu, perbuatan terdakwa sangat meresahkan masyarakat dan salah seorang korban masih berusia dibawah umur.

Dalam dakwaan yang dibacakan JPU tersebut, kasus pembunuhan itu terjadi pada Sabtu 13 Februari 2021. Dimana kedua korban datang ke Polres Pelabuhan Belawan untuk menanyakan perihal barang titipan kepada terdakwa yang saat itu tengah melaksanakan tugas piket jaga tahanan.

" Terdakwa pun mengatakan kepada korban Riska. 'kalau mau saya carikan, sinilah nomor HP mu, nanti ku kabari pun'. Korban pun memberikan nomornya itu," sebut JPU pada gelar persidangan secara virtual.  

Lalu, terdakwa yang tertarik dengan korban Riska menghubunginya untuk bertemu dengan alasan hendak membicarakan masalah titipan tersebut. Tapi korban menolak, namun terdakwa yang sudah tertarik dan tergoda dengan penampilan korban membuat rencana.

Sepekan kemudian, terdakwa membuat suatu cerita seolah-olah barang yang disebutkan oleh korban sudah ada pada terdakwa. Terdakwa pun menghubungi korban yang saat itu tengah bersama dengan korban Aprilia Cinta. Dengan segala bujuk rayu, kedua korban pun akhirnya bersedia diajak masuk terdakwa ke mobilnya.

Setelah keluar dari pintu Tol Cemara Asri, terdakwa mengemudikan mobil ke arah Jalan Cemara Asri dan memutar balik ke Jalan Haji Anif, tidak jauh dari hotel Miyana. 

" Dengan posisi bertiga masih berada di mobil terdakwa, terdakwa mengatakan kepada korban Riska 'masalah uangmu dan Handphone nantilah kita ambil' dijawab oleh korban R 'jangan gitulah pak' dan terdakwa mengatakan 'ya sudah sabar dululah' ," sebut JPU dalam dakwaan seperti ucapan korban.

Dikarenakan terdakwa sangat bernafsu dan sangat tertarik dengan tubuh korban Riska, terdakwa menarik tangan sebelah kiri korban. Di mobil, korban sempat mendapat pelecehan dari terdakwa. Korban melawan, tapi akhirnya terdakwa memukul leher korban dan memborgol leher korban.

Sedangkan terhadap korban Aprilia Cinta, terdakwa membentak korban dan meminta gadis berusia 13 tahun itu diam.

Selanjutnya, terdakwa membawa kedua korban ke salah satu hotel di Jalan Jamin Ginting. Di sana terdakwa menyekap kedua wanita itu.

" Terdakwa awalnya hendak memperkosa korban Riska, namun karena korban tengah menstruasi, terdakwa melampiaskan nafsu bejatnya kepada korban Cinta yang masih berusia 13 tahun," beber JPU.

Terdakwa kemudian mengancam korban untuk tidak menceritakan kejadian ini. Selanjutnya terdakwa membawa kedua wanita itu ke rumahnya di kawasan Jalan Marelan.

" Terdakwa juga mengancam istrinya dengan pisau saat hendak membawa kedua wanita yang dalam kondisi terikat itu masuk ke rumah. Dia mengatakan keduanya merupakan tangkapan narkoba," terang JPU.

Kedua wanita yang sudah diikat dan dilakban itu kemudian disekap di kamar belakang oleh terdakwa. Usai melakukan aksinya itu, terdakwa kembali ke Polres Pelabuhan Belawan untuk tugas piket.

Keesokan harinya, terdakwa yang baru usai piket di Polres Pelabuhan Belawan pulang ke rumah. Saat melihat kamar tempat kedua wanita itu disekap, terdakwa terkejut kedua wanita malang itu tidak bergerak.

" Selanjutnya, pikiran terdakwa makin tidak menentu karena kedua korban lemas. Agar tidak diketahui orang lain bahwa dirinya telah melakukan perbuatan tersebut, timbul niatnya untuk menghabisi nyawa keduanya," papar JPU.

Lalu, menghabisi nyawa kedua wanita itu dengan menyekap mulut mereka dengan bantal. Setelah mengetahui keduanya meninggal, kemudian memasukkan jasad keduanya ke mobil. Dia juga mengancam istrinya untuk ikut bersamanya.

Selanjutnya, membuang jasad kedua wanita itu. Jasad Riska Pitria dibuang di Jalan Pasiran, Kelurahan Simpang Tiga Pekan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai di pinggir jalan. 

Sedangkan jasad Aprilia Cinta dibuang di jalan Budi Kemasyarakatan, Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat. (imc/joy)


Komentar

Berita Terkini