-->
    |

Pandemi Covid-19 Juga Ancam Kelangsungan Media Cetak


INILAHMEDAN - Dampak pandemi virus corona (Covid-19) tak hanya terhadap perekonomian secara global, namun juga seluruh sendi kehidupan termasuk pula mempengaruhi bagi kelangsungan media cetak di Indonesia yang terancam bangkrut.

" Situasi ini juga melemahkan daya beli masyarakat sehingga memperparah situasi persuratkabaran saat ini, bukan tidak mungkin bisa membuat banyak media cetak gulung tikar," ujar Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumut H Farianda Putra Sinik di Medan, Rabu (01/04/20).

Bersama ketua PWI Sumut Hermansjah, ia mengatakan situasi ini makin diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga mendekati Rp 17.000 yang secara otomatis menaikan harga kertas koran.

Dalam  kondisi sekarang, dengan semakin berkurangnya pendapatan iklan dan tergerusnya oplah yang dialami semua perusahaan media cetak di Sumatera Utara tentu sangat memberatkan.

" Karenanya kami sangat mengharapkan pemerintah pusat membuat kebijakan khusus dengan memberikan semacam insentif, antara lain dalam hal penghapusan pajak (P.Ph) kertas koran,"  jelasnya.

Pernyataan  serupa juga disampaikan oleh sejumlah pimpinan media diantaranya Pemimpim Umum Harian Analisa Supandi Kusuma, Pemimpin Redaksi Harian Waspada H Prabudi Said, Pemimpin Redaksi Harian SIB GM Immanuel Panggabean.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Medan Pos H Farianda Putra Sinik, Pemimpin Umum Harian Berita Sore H Teruna Jasa Said, Pimpinan Redaksi Harian Tribun Dayan Syarief, Pimpinan Umum Sumut Pos Pandapotan MT Siallagan, Penanggungjawab Harian  Mimbar Umum Jalaluddin.

Pemred Harian Realitas Zultaufik, PU/Pemred Sumut-24 Ryanto Agly, Pemimpin Umum Harian Orbit H Mahsin Ahmad dan Pemimpin Umum Harian Metro 24 T.Hasyimi serta Pemimpin Redaksi Harian Andalas Agus Salim Ujung.

Disebutkan,  Pandemi Corona yang terus merebak di seluruh dunia tersebut, Presiden RI Joko Widodo juga harus memberi solusi. Apalagi media cetak (surat kabar) sebagai perusahaan pers yang tetap konsisten membayar pajak.

" Kami sedang menghadapi situasi sulit dan hal ini makin diperparah dengan wabah Covid 19 yang mengakibatkan pasar pembaca cetak makin berkurang," ucap Farianda.

Menurutnya, pemerintah harus segera mengambil langkah strategis dalam menyelamatkan bisnis media cetak. Apalagi sejarah bangsa ini tidak bisa lepas dari peran media cetak yang ikut andil dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

" Corona bukan hanya membinasakan manusia, bisnis media cetak juga bisa binasa jika pemerintah tidak peduli terhadap kelangsungannya. Kami berharap pemerintah pusat dan daerah juga memikirkan kesinambungan kami," paparnya.

Dalam hal ini Pemprov Sumatera Utara melalui Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi juga harus memperhatikan kehidupan media cetak yang sudah diambang kebangkrutan, terutama bila tidak segera mendapat bantuan.

Bukan hanya melalui bantuan peningkatan profesionalitas kewartawaan sebagaimana dilakukan selama ini dalam program Uji Kompetensi Wartawan (UKW), tapi juga menaruh perhatian dalam hal berbagai kemudahan dan insentif.

Seperti menggalakkan kembali di lingkungan kerja Pemprovsu, jajaran pemerintah kota dan kabupaten untuk tetap berlangganan surat kabar dan kerjasama lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Sehingga hubungan emosional antara jajaran pemerintahan dan redaksi di masing masing media cetak di daerah ini tetap terus terjaga serta terjalin baik sebagaimana selama ini. 

“ Tidak saja di Medan tapi juga di daerah daerah dengan adanya kebijakan itu diharapkan animo masyarakat untuk membaca koran tidak pupus akibat perkembangan media sosial dan perkembangan media cyber di era Revolusi Industri 4.0 yang terjadi sekarang ini," kata Hermansjah.  (imc/joy)


Komentar

Berita Terkini